Minggu, 07 Oktober 2012

Gambar kosong

Baru sadar kalau ternyata blogku kekurangan gambar ke depannya semoga saya ingat kalau gambar dalam tulisan itu sama pentingnya dengan tulisan yang saya buat ...

Jumat, 08 Juni 2012

lebih baik tidak tahu!


Ketika kamu melangkah, menuju ke suatu tempat yang kau impikan, ada baiknya jika kau mengetahui apa yang akan kau temui di sana. Namun, bagaimana jika tempat atau lebih tepatnya apa yang ada di tempat yang kau tuju itu bukan tempat yang dapat membuatmu bahagia?. Maka, pikiran-pikiran untuk berhenti dan berbelok ke arah lain memenuhi kepalamu, tapi apakah itu akan membuatmu bahagia, membuatmu lupa akan tempat impianmu tersebut?. Karena itu, mungkin lebih baik untuk tidak tahu sama sekali karena kadang ketidaktahuan itu merupakan sebuah berkat dari Tuhan bagi makhluknya. Sekarang yang menjadi pertanyaannya adalah apa yang harus kita lakukan apabila sudah terlanjur tahu, apakah kita harus berhenti kemudian berbalik arah dan pergi ke tempat yang lain, ataukah berpura-pura tidak tahu dan menghadapi derita dan sakit yang kau jemput  dengan kepolosan hati yang palsu?

Kita Yang Beda



Saya jarang ngaret, sekalinya ngaret acaranya On Time


Sayang ingat tidak, dulu waktu kita bersama, kita selalu sejalan dan sependapat, tidak pernah sekali pun berselisih paham. Meskipun orang lain memiliki pemikiran yang berbeda,kita tidak pernah terpengaruh itu saja, titik. Masa-masa itu, meskipun telah lewat masih sering terputar di kepalaku. Saat sekolah kita selalu datang bersama-sama,tidak seperti mereka yang selalu datang belakangan. Kita bisa berada di lapangan upacara saat semua orang masih dalam perjalanan menuju sekolah atau malah masih terkantuk-kantuk di rumahnya, kita bisa menikmati udara yang belum dicicipi orang lain. Kita juga selalu ada di tempat lomba, saat orang lain pergi entah kemana,kita selalu mempersiapkan diri lebih awal daripada yang lain. Namun, mengapa kini kau berubah?. Kita tidak lagi sama. Kau berubah itu yang aku tahu, teralihkan oleh pemikiran-pemikiran mereka, mungkin. Dirimu yang sekarang tidak jauh berbeda dari mereka yang kita tertawai dulu, tidak lebih dari waktu-waktu yang terbuang percuma, sia-sia. Kini saat aku bilang pukul sepuluh pagi, seringkali kau mengulurnya hingga 120 menit kemudian, bahkan terkadang lebih. Aku tidak tahu apa yang menyebabkan kau berubah, lingkungankah atau kau sudah merasa jengah menjadi pihak yang menunggu, hingga dirimu kini menyerupai mereka. Aku ingin kita kembali seperti dulu, satu waktu. Aku tidak ingin merasa terlalu asing denganmu, tapi aku juga tidak mau berubah sepertimu. 

Puisi, bukan?


Mungkin mereka tak peduli apa yang aku inginkan
Mungkin mereka tak ingin mendengar apa yang aku bicarakan
Mungkin mereka tak ingin tahu apa yang kuketahui
Mungkin juga mereka tak suka apa yang menurutku indah
Tapi ini aku
Aku juga tak terlalu ingin diperdulikan oleh mereka
Tidak  terlalu ingin mereka dengar
Tidak pula ingin membagi semua yang aku ketahui
Ataupun memaksa mereka menyukai apa yang aku katakan indah
Aku hanya ingin
Lebih banyak perduli terhadap diriku
Lebih banyak mendengar kata hatiku
Memperbanyak pengetahuanku
Dan juga menikmati keindahan yang ada
Karena aku hanya manusia biasa
hanya seorang yang hidup dari karya orang lain
Itu saja Titik.

Rabu, 30 Mei 2012

kalimat gagal

"Angin malam ini begitu menenangkan, namun baik Bulan maupun Bintang  tak menampakkan dirinya. Mereka, Bulan dan Bintang  lagi-lagi tak menepati janjinya untuk menemaniku, menghabiskan malam dengan menghiasi langit yang kelam..."
 Kalimat di atas, menurut yang buat sudah manis dan puitis sekali, menurut yang buat tinggal ditambah beberapa kalimat sudah bisa dijadikan postingan yang sweet, dan  menurut yang buat lagi kalimat di atas juga bisa dijadikan pembuka surat-surat cinta yang menohok hati  (meski sekarang orang lebih suka ungkapkan cinta lewat HP -___-' ). Akan tetapi, karena seorang  teman yang jahilnya luar biasa, yang luar biasa menggemaskannya, yang dengan sengaja membaca kalimat di atas dengan lantang dan keras sehingga buat malu saya, maka kalimat di atas tersebut hanya menjadi kalimat pembuka di sebuah postingan yang sama sekali tidak sweet, meskipun yang buat bilang postingan ini masih tetap unyu ^_^V.

Kamis, 03 Mei 2012

jadi artikel belum?


Terinsipirasi dari perjalanan panjang nan melelahkan dari kampus merah tercinta hingga sambueja (apa merah gitu), maka lahirlah hampir artikel ini yang sekali lagi hadir dalam rangka follow up kelas menulis di kosmik. Alasan mengapa saya menulis tentang “ornamen tambahan” dari hampir setiap pohon yang berada di jalan poros Maros-Bantimurung karena saya merasa prihatin terhadap kondisi kekinian dari lingkungan yang semakin rusak. MERDEKA!!! Hehehe JJJ ^^V. Meskipun sudah lama saya kirim tapi saya merasa tidak adil terhadapnya apabila dia, sebagai salah satu dari tulisan yang saya buat dengan air mata berlinang dan semangat 45, tidak saya jadikan sebagai salah satu penghuni blog ini.
***
Kasihan kau pohon. Kau yang sudah melindungi bumiku dari terjangan sinar ultra violet yang dapat membuatku dan orang-orang yang aku sayang terbakar kulitnya. Menyediakan oksigen untuk aku bernafas dan menjadi tempat aku berteduh dikala siang mengganas, kini telah berubah. Hanya demi popularitas segelintir orang dirimu terluka.
Kau yang sekarang telah bersanding dengan baliho dan poster-poster orang yang tak kau kenal. Yang menampakkan orang aneh dengan gaya yang aneh pula. Mereka yang berfoto dengan senyum palsu. Berpose dengan gaya yang aduhai anehnya. Ada yang berpose dengan gaya hormat ala upacara bendera, berjabat tangan seolah berada di sebuah hajatan pernikahan, menjadi pahlawan holywood bahkan ada yang menggunakan foto anak kecil yang entah anak siapa.
Mereka menyiksamu, benarkan. Dengan belasan bahkan puluhan paku yang bersarang di tubuhmu, dengan kawat duri dan plastik yang menghambat tumbuhmu. Mereka yang  yakin dapat menipu orang lain dengan gambar palsu, mereka yang sesumbar menabur janji memuakkan, dan mereka yang bodoh karena telah melakukan keduanya. Di negara kita bukan hanya segelintir orang yang mengetahui akal bulus mereka. Tidak sedikit pula yang mencela perilaku mereka. Namun ternyata mereka tak sebodoh yang aku pikirkan. Mereka cerdas. Mereka tahu bahwa tak sedikit pula yang memuja mereka dengan gambar atau uang mereka itu. Benar pohon, tak hanya menyakitimu dengan poster senyum palsu. Mereka juga melukai harga diri serta hak rakyat miskin kita. Mereka membeli suara mereka. Mengiming-imingi dengan janji palsu serta harapan kosong yang indah. Masih dengan balutan senyum palsu itu tentunya. Bagi rakyat yang tidak tahu mereka pasti akan merasa senang dan bahagia dengan kedatangan dewa yang memberikan rezeki yang tak mereka sangka. Bagi mereka yang tahu, apa boleh buat. Mereka tak punya pilihan lain. Karena mereka memang tak pernah diberi kesempatan memilih. Mereka harus rela haknya memilih pemimpin tergadai oleh beberapa liter beras dan minyak, sebungkus gula, uang puluhan ribu atau sarung, untuk menyambung hidup beberapa hari kedepan. Dengan kondisi ekonomi yang makin menghimpit hidup mereka, apapun akan mereka lakukan. Mungkin bagi mereka satu suara mereka tidaklah lebih penting dari pada sembako yang makin sulit mereka raih. Ataukah mereka telah hilang percaya terhadap calon pemimpinnya kelak. Toh siapa juga yang akan menjamin hidup mereka akan lebih indah berbunga-bunga jika pemimpin baru terpilih.
            Pohon, bagaimana keadaanmu sekarang. Pemilahan umum sebentar lagi akan tiba. Sudah siapkah tubuhmu disiksa lagi. Dipaku dan diberi plastik bergambar senyum memuakkan lagi. Apakah mereka sadar, yang mereka lakukan itu hanya politik yang terkesan  buang-buang uang. Ironikan, mengingat mereka melakukan itu ditengah banyak penduduk  indonesia yang masih menderita kelaparan. Apakah mereka telah mati rasa. Mati rasa kemanusiaannya. Mati rasa seluruh indranya sehingga mereka tidak lagi peka terhadap masalah  negara yang tak kunjung mendapat jalan keluar itu.
Apapun itu aku masih mengkhawatirkanmu pohon. Kini jejakmu makin sulit terdeteksi. perlahan-lahan kau menyembunyikan diri dariku. Menghilang karena marah pada manusia mungkin. Namun tunggu, suatu hari mereka pasti akan mencari dirimu karena menyadari pentingnya sosokmu. Tunggu sampai mereka tak lagi berani memaku tubuhmu. Bahkan menyentuhmu pun mereka segan. Kau hanya harus menunggu.

Rabu, 02 Mei 2012

namanya s.i.a.l


Kesialan itu saat kamu kelaparan ketika gerimis menyelimuti langit pagi, saat susah payah datang pagi eh dosennya absen, saat kamu ditabrak sama teman kamu sendiri di parkiran kampus, saat kamu lagi asik jadi model ditaman mana gitu hujan datang lagi, saat kamu lari dari hujan malah jatuh dari motor, saat kamu sampai di rumah, ada bangkai burung yang secara ajaib tergeletak tak berdaya di depan pintu kamu, dan yang terburuk saat tersebut terjadi berurutan dalam sehari. Bagi yang merasakannya mari kita sama-sama mendoakannya agar dia, dengan segala kesialannya hari itu bisa mendapat kebahagiaan yang besar sebagai balasan dari kejadian buruk yang menimpanya.
Design by BlogSpotDesign | Ngetik Dot Com