Jumat, 08 Juni 2012

Puisi, bukan?


Mungkin mereka tak peduli apa yang aku inginkan
Mungkin mereka tak ingin mendengar apa yang aku bicarakan
Mungkin mereka tak ingin tahu apa yang kuketahui
Mungkin juga mereka tak suka apa yang menurutku indah
Tapi ini aku
Aku juga tak terlalu ingin diperdulikan oleh mereka
Tidak  terlalu ingin mereka dengar
Tidak pula ingin membagi semua yang aku ketahui
Ataupun memaksa mereka menyukai apa yang aku katakan indah
Aku hanya ingin
Lebih banyak perduli terhadap diriku
Lebih banyak mendengar kata hatiku
Memperbanyak pengetahuanku
Dan juga menikmati keindahan yang ada
Karena aku hanya manusia biasa
hanya seorang yang hidup dari karya orang lain
Itu saja Titik.

Rabu, 30 Mei 2012

kalimat gagal

"Angin malam ini begitu menenangkan, namun baik Bulan maupun Bintang  tak menampakkan dirinya. Mereka, Bulan dan Bintang  lagi-lagi tak menepati janjinya untuk menemaniku, menghabiskan malam dengan menghiasi langit yang kelam..."
 Kalimat di atas, menurut yang buat sudah manis dan puitis sekali, menurut yang buat tinggal ditambah beberapa kalimat sudah bisa dijadikan postingan yang sweet, dan  menurut yang buat lagi kalimat di atas juga bisa dijadikan pembuka surat-surat cinta yang menohok hati  (meski sekarang orang lebih suka ungkapkan cinta lewat HP -___-' ). Akan tetapi, karena seorang  teman yang jahilnya luar biasa, yang luar biasa menggemaskannya, yang dengan sengaja membaca kalimat di atas dengan lantang dan keras sehingga buat malu saya, maka kalimat di atas tersebut hanya menjadi kalimat pembuka di sebuah postingan yang sama sekali tidak sweet, meskipun yang buat bilang postingan ini masih tetap unyu ^_^V.

Kamis, 03 Mei 2012

jadi artikel belum?


Terinsipirasi dari perjalanan panjang nan melelahkan dari kampus merah tercinta hingga sambueja (apa merah gitu), maka lahirlah hampir artikel ini yang sekali lagi hadir dalam rangka follow up kelas menulis di kosmik. Alasan mengapa saya menulis tentang “ornamen tambahan” dari hampir setiap pohon yang berada di jalan poros Maros-Bantimurung karena saya merasa prihatin terhadap kondisi kekinian dari lingkungan yang semakin rusak. MERDEKA!!! Hehehe JJJ ^^V. Meskipun sudah lama saya kirim tapi saya merasa tidak adil terhadapnya apabila dia, sebagai salah satu dari tulisan yang saya buat dengan air mata berlinang dan semangat 45, tidak saya jadikan sebagai salah satu penghuni blog ini.
***
Kasihan kau pohon. Kau yang sudah melindungi bumiku dari terjangan sinar ultra violet yang dapat membuatku dan orang-orang yang aku sayang terbakar kulitnya. Menyediakan oksigen untuk aku bernafas dan menjadi tempat aku berteduh dikala siang mengganas, kini telah berubah. Hanya demi popularitas segelintir orang dirimu terluka.
Kau yang sekarang telah bersanding dengan baliho dan poster-poster orang yang tak kau kenal. Yang menampakkan orang aneh dengan gaya yang aneh pula. Mereka yang berfoto dengan senyum palsu. Berpose dengan gaya yang aduhai anehnya. Ada yang berpose dengan gaya hormat ala upacara bendera, berjabat tangan seolah berada di sebuah hajatan pernikahan, menjadi pahlawan holywood bahkan ada yang menggunakan foto anak kecil yang entah anak siapa.
Mereka menyiksamu, benarkan. Dengan belasan bahkan puluhan paku yang bersarang di tubuhmu, dengan kawat duri dan plastik yang menghambat tumbuhmu. Mereka yang  yakin dapat menipu orang lain dengan gambar palsu, mereka yang sesumbar menabur janji memuakkan, dan mereka yang bodoh karena telah melakukan keduanya. Di negara kita bukan hanya segelintir orang yang mengetahui akal bulus mereka. Tidak sedikit pula yang mencela perilaku mereka. Namun ternyata mereka tak sebodoh yang aku pikirkan. Mereka cerdas. Mereka tahu bahwa tak sedikit pula yang memuja mereka dengan gambar atau uang mereka itu. Benar pohon, tak hanya menyakitimu dengan poster senyum palsu. Mereka juga melukai harga diri serta hak rakyat miskin kita. Mereka membeli suara mereka. Mengiming-imingi dengan janji palsu serta harapan kosong yang indah. Masih dengan balutan senyum palsu itu tentunya. Bagi rakyat yang tidak tahu mereka pasti akan merasa senang dan bahagia dengan kedatangan dewa yang memberikan rezeki yang tak mereka sangka. Bagi mereka yang tahu, apa boleh buat. Mereka tak punya pilihan lain. Karena mereka memang tak pernah diberi kesempatan memilih. Mereka harus rela haknya memilih pemimpin tergadai oleh beberapa liter beras dan minyak, sebungkus gula, uang puluhan ribu atau sarung, untuk menyambung hidup beberapa hari kedepan. Dengan kondisi ekonomi yang makin menghimpit hidup mereka, apapun akan mereka lakukan. Mungkin bagi mereka satu suara mereka tidaklah lebih penting dari pada sembako yang makin sulit mereka raih. Ataukah mereka telah hilang percaya terhadap calon pemimpinnya kelak. Toh siapa juga yang akan menjamin hidup mereka akan lebih indah berbunga-bunga jika pemimpin baru terpilih.
            Pohon, bagaimana keadaanmu sekarang. Pemilahan umum sebentar lagi akan tiba. Sudah siapkah tubuhmu disiksa lagi. Dipaku dan diberi plastik bergambar senyum memuakkan lagi. Apakah mereka sadar, yang mereka lakukan itu hanya politik yang terkesan  buang-buang uang. Ironikan, mengingat mereka melakukan itu ditengah banyak penduduk  indonesia yang masih menderita kelaparan. Apakah mereka telah mati rasa. Mati rasa kemanusiaannya. Mati rasa seluruh indranya sehingga mereka tidak lagi peka terhadap masalah  negara yang tak kunjung mendapat jalan keluar itu.
Apapun itu aku masih mengkhawatirkanmu pohon. Kini jejakmu makin sulit terdeteksi. perlahan-lahan kau menyembunyikan diri dariku. Menghilang karena marah pada manusia mungkin. Namun tunggu, suatu hari mereka pasti akan mencari dirimu karena menyadari pentingnya sosokmu. Tunggu sampai mereka tak lagi berani memaku tubuhmu. Bahkan menyentuhmu pun mereka segan. Kau hanya harus menunggu.

Rabu, 02 Mei 2012

namanya s.i.a.l


Kesialan itu saat kamu kelaparan ketika gerimis menyelimuti langit pagi, saat susah payah datang pagi eh dosennya absen, saat kamu ditabrak sama teman kamu sendiri di parkiran kampus, saat kamu lagi asik jadi model ditaman mana gitu hujan datang lagi, saat kamu lari dari hujan malah jatuh dari motor, saat kamu sampai di rumah, ada bangkai burung yang secara ajaib tergeletak tak berdaya di depan pintu kamu, dan yang terburuk saat tersebut terjadi berurutan dalam sehari. Bagi yang merasakannya mari kita sama-sama mendoakannya agar dia, dengan segala kesialannya hari itu bisa mendapat kebahagiaan yang besar sebagai balasan dari kejadian buruk yang menimpanya.

Senin, 16 April 2012

namaku...

masih ingat waktu kecil tidak ada teman TK yang bisa sebut namaku dengan benar. itu kayaknya karena mereka kebanyakan yang cadel. sekarang juga begitu, bedanya mereka bukan tidak bisa sebut namaku, tapi kebanyakan dari mereka tidak bisa menulis namaku dengan benar sesuai dengan EYD dan akta kelahiranku. berikut adalah kesalahan nama yang sering terjadi mulai dari piagam hasil lomba hingga ID card acara yang saya ikuti
  • desi arista
  • dessi arista
  • desy arista
  • dessy arsita
  • dessy anista
  • dessi arysta
padahal namaku yang cuman sebelas huruf itu mudah sekali ditulisnya cukup tulis Dessy Arista saja, kok susah sekali yah rasanya.

Aristoteles dan Arista toples



Merenung tentang tujuan awalku berjuang di tempat ini. Sebetulnya tidak jauh berbeda dengan orang kebanyakan. Yaitu mendapatkan ijazah s1 biar bisa dapat kerja yang layak (minimal nda jadi tukang). Tapi bukan hanya itu. Orang tua di rumah sempat bilang . bilang  sesuatu yang menyesakkan juga menakutkan bagi anak gadis yang baru lulus sma. Bilang saat anak gadisnya itu menampakkan gelagat terkena  penyakit sudah-malas-belajar-tingkat akut yang bisa diartikan tidak mau lanjut kuliah. Maka kata-kata seperti tinggal tunggu ada yang melamar atau cari kerja baru nikah cepat (ujung-ujungnya nikah muda ==’) menjadi obat manjur untuk  membuat seseorang yang berjiwa bebas ini kembali bergairah belajar dengan semangat empat lima yang berkobar-kobar (eaaa). Saya tahu mereka hanya bercanda. Mereka orang tua paling keren yang pernah saya lihat. Membebaskan anaknya untuk melakukan apa saja asal resiko tanggung sendiri. Tidak pernah sok menggurui anaknya. Atau melakukan hal-hal yang mengekang kemerdekaan anaknya. Mereka mungkin punya prinsip bebas bersyarat, bukan bebas terbatas yang selalu diagung-agungkan orang tua lain. Lagian mana ada bebas yang dibatas-batasi bukan bebas namanya. Tapi betulan saya tetap takut.
Sekarang masih lanjut merenung dengan renungan yang sama dan masih dalam kondisi yang sama yaitu merenung. Meski yang direnungi itu kurang jelas tapi yah biar supaya dibilang pemikir (merenung itu mikir juga kan) seperti pemikir-pemikir terkenal lainnya, seperti Aristoteles katanya. Tapi sayangnya saya bukan aristoteles itu, pemikiranku tak berkaitan dengan apa yang dia pikirkan. Saya hanya seorang arista yang merenung (atau mikir) sambil memandang toples.
Masih lanjut merenung. Masih dengan renungan yang sama. Masih dengan pemandangan yang sama. Merenungkan apa yang akan saya lakukan selepas kuliah. Pusing juga. Masih semester awal sudah mengkhayali dunia setelah wisuda. Tapi mau diapa lagi. Saya tidak sedang memikirkan siapa-siapa kecuali diri saya sendiri. Untuk apa coba memikirkan seseorang atau sekelompok orang yang belum tentu memikirkan anda, betul. Maka pikiran-pikiran usil itu bermunculan bagai ide-ide nakal yang siap untuk diterjemahkan menjadi seni. Lanjut merenung tentang renungan yang tadi. Bagaimana kalau seandainya saya lulus cepat terus dikasih nikah cepat atau dapat jodoh buat dipakai nikah cepat. Berarti usaha untuk tidak nikah cepat gagal. Usaha itu hanya tertunda sebentar.atau bagaimana kalau saya lama lulusnya (ini tidak termasuk do’a yah, jangan dicatat, jangan di ijabah) bisa jadi saya dikasih nikah cepat-cepat. Sama hasil beda proses.
Tapi ya sudah. Renungan ini di tunda dulu ada renunga lain yang lebih penting untuk direnungkan. Merenungkan bagaimana menyelesaikan tiga paper dan satu presentasi yang bikin kepala berasa aduhai. Bikin perut jadi melilit (sepertinya ini efek karena terlalu banyak makan). Ya sudahlah Arista yang masih memandang toples ini kembali merenungi nasibnya. Nasibnya bersama tugas-tugas yang sepertinya tidak mau diselesaikan.
           

Selasa, 03 April 2012

Berharap ini artikel

hari sabtu lalu ada kelas menulis di kampus. dengan hati yang riang, senang, gembira, dan bahagia saya mengikuti kelas itu. setelah selesai kakak koordinatornya bilang sesuatu yang intinya "BUAT ARTIKEL yaah" meeen makhluk dari mana itu artikel. perasaan saya pernah ketemu tapi lupa bagaimana penampakan bentuk dan rupa makhluk yang satu ini. nah jadilah saya mencari tahu si artikel ini di google. hasilnya...google tidak selalu bisa memberi apa yang anda inginkan. maka jadilah saya, di detik-detik terakhir menulis tentang makhluk yang satu itu. berbekal ilmu mengarang bebas yang saya dapat di SMA dan di bangku kuliah serta informasi dari informan yang wah sekali maka jadilah sesuatu itu. sesuatu yang sulit saya deskripsikan bentuknya. sesuatu yang saya harap apa-yang-dimaksudkan-kakak koordinator. ini dia sesuatunya


OTAKU

Pernah menonton anime atau film kartun sewaktu kecil? Pasti pernah. Mulai dari anime yang lucu seperti sailor moon, digimon, pokemon, doraemon, dan  P-man hingga anime yang  lumayan berat untuk konsumsi anak seperti dragon ball dan one peace. Namun bagaimana jika kebiasaan menonton anime ini berlanjut hingga dewasa. Bagi anda yang tidak menyukai atau kurang menikmati  film yang kebanyakan diproduksi oleh negeri matahari terbit ini , mungkin akan mengaggapnya sebagai hal yang aneh dengan pemikiran bahwa anime atau kartun tersebut diidentikkan dengan dunia anak. Namun berbeda bagi orang-orang yang sangat menggemari atau mencintai dunia yang satu ini.
 Otaku, begitulah penggemar anime atau manga ini disebut. Orang-orang yang ini biasanya gemar mengumpulkan gambar, games, atau film yang berbau anime atau manga. Mengumpulkan hal-hal yang berbau manga seolah menjadi candu bagi para otaku yang akhirnya berubah dari hoby menjadi kebiasaan. Otaku tidak mengenal status sosial. penikmatnya bisa berasal dari berbagai kalangan, mulai dari anak kecil hingga orang tua. Mulai dari yang putus sekolah hingga anak kuliah.
Banyak alasan yang menyebabkan orang tetap menggemari anime dan manga. Tony, salah satu mahasiswa komunikasi mengatakan bahwa hal positif yang didapatkan dari anime dan manga adalah semangat para tokoh dalam ceritanya yang menginspirasi. lain lagi dengan Diman, yang menjadi penikmat anime sejak berada di sekolah dasar hingga menjadi sarjana ini merasa bahwa menonton anime merupakan hiburan tersendiri baginya. Berbagai alasan memang yang membuat orang tetap bertahan mengikuti perkembangan dunia animasi ini. Padahal dengan banyaknya seri serta pilihan animasi yang terbilang tidak sedikit, tidak menyurutkan penikmatnya untuk berpaling ke hiburan yang lain.

apakah ini artikel itu?, atau hanya tulisan tiga paragraf yang membicarakan hal yang tidak jelas, atau hanya sesuatu?
apapun itu saya senang menulisnya...


Design by BlogSpotDesign | Ngetik Dot Com